Senin, 02 Desember 2013

Makalah Komunikasi Keperawatan Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan dipelihara secara terus menerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan, melancarkan, melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan optimal, baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hubungan antar manusia.
Pada orang dewasa, mereka mempunyai sikap, pengetahuan dan keterampilan yang lama menetap dalam dirirnya sehingga untuk merubah perilakunya sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu model komunikasi yang tepat agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan efektif.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, masalah  yang dapat kami kaji dalam makalah ini diantaranya:
1.      Bagaimana komunikasi dengan keluarga?
2.      Bagaimana komunikasi pada klien dewasa?
3.      Bagaimana suasana komunikasi pada klien dewasa?
4.      Bagaimana penerapan model komunikasi pada klien dewasa?
C.    Tujuan Penulisan
Dalam pembuatan tugas ini, adapun tujuan yang hendak dicapai penulis yaitu:
1.      Untuk mengetahui komunikasi dengan keluarga
2.      Untuk mengetahui komunikasi pada klien dewasa
3.      Untuk mengetahui suasana komunikasi pada klien dewasa
4.      Untuk mengetahui penerapan model komunikasi pada klien dewasa
D.    Metode Penulisan
Metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini, yaitu :
1.   Metode Kepustakaan
Adalah metode pengumpulan data yang digunakan penulis dengan mempergunakan buku atau refrensi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas
2.   Metode Media Informatika
Adalah metode dengan mencari data melalui situs-situs di internet
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Komunikasi Dengan Keluarga
Komunikasi dengan keluarga merupakan proses segi tiga antara perawat, orang tua dan anak. Walaupun orang tua merupakan fokus penting dalam berkomunikasi segi tiga. Saudara kandung, sanak keluarga lainnya dan pengasuhnya juga merupakan bagian dari proses komunikasi.
Melaksanakan penjajakan terhadap anak memerlukan input anak itu sendiri (verbal dan non verbal), informasi dengan orang tua dan observasi perawat itu sendiri. Orang tua merupakan fokus penting dalam komunikasi segi tiga (anak-orang tua-perawat) walaupun tidak mengabaikan saudara kandung, sanak saudara atau pembantunya.
Dalam proses komunikasi dalam keluarga dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mendorong orang tua untuk berbicara
Informasi tentang faktor kehidupan anak. Menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk menggali data sebanyak mungkin.
2.      Mengarahkan pada pokok permasalahan
Kemampuan untuk mengarahkan pada pokok permasalahan selama berwawancara adalah salah satu kesulitan dalam mencapai tujuan komunikasi efektif. Salah satu pendekatan adalah menggunakan pertanyaan terbuka dan luas. Langkah ini dilakukan untuk menghindari  komunikasi yang tidak relevan dan mengefektifkan komunikasi yang terapeutik.
3.      Mendengarkan
Mendengarkan adalah unsur yang paling penting dalam komunikasi yang efektif. Dalam proses mendengarkan perawat harus mengarahkan perhatiannya dengan sungguh-sungguh pada klien.
4.      Diam sejenak
Diam sebagai satu respon, sering kali merupakan tehnik wawancara yang sulit untuk dipelajari. Diam bertujuan untuk mengalihkan pikiran, perasaan dan untuk saling memahami emosinya kadang-kadang perlu menghentikan taktik diam ini dan kembali berkomunikasi.
5.      Bersikap empati
Empati berarti ikut merasakan perasaan orang lain secara obyektif. Perawat yang empati berusaha sebnyak mungkin melihat keadaan dari sudut pandang klien/keluarga. Empati berbeda dengan simpati, simpati tidak selalu ada unsur hubungan “membantu” dengan klien.
6.      Meyakinkan
Hampir semua orang tua  ingin menjadi orang tua yang baik dan ingin menunjukkan kemampuannya  dalam perannya.  Orang tua membutuhkan  perawat yang menghargai dan memperhatikan perannya sebagai orang tua dan ingin agar perawat memperhatikan  anaknya. Hindarkan pembicaraan yang menyinggung harga diri sebagai orang tua.
7.      Menentukan masalah
Perawat dan rang tua harus sepakat bahwa masalah itu ada.
8.      Memecahkan masalah
Pemahaman dan pengenalan masalah harus disepakati oleh orang tua kemudian mulai merencanakan pemecahannya. Perawat  harus mendiskusikan resikonya terhadap keluarga dan mencoba mencari pemecahan masalah yang lebih efektif.
9.      Mengadaptasi bimbingan
Segera setelah masalah diidentifikasi dan disetujui oleh perawat dan orang tua, maka dapat mulai merencanakan pemecahannya. Orang tua yang dilibatkan dalam memecahkan masalah berpartisipasi penuh selama perawatan berlangsung.
10.  Menghindari hambatan-hambatan komunikasi
Hambatan yang mempengaruhi proses hubungan dalam berkomunikasi:
a.       Sosialisasi kepada sasaran yang kurang tepat
b.      Meberi nasehat-nasehat yang tidak ada kaitannya dan yang tidak diperlukan
c.       Melindung suatu situasi/opini
d.      Memberikan dorongan sepintas
e.       Menawarkan keyakinan yang kurang sesuai
f.       Menyelesaikan kalimat seseorang
g.      Mengubah fokus pembicaraan dengan sengaja


B.     Komunikasi Dalam Keperawatan Dewasa
1.      Komunikasi pada Klien Dewasa
Menurut Erikson (1985), pada orang dewasa terjadi tahap hidup intimasi vs isolasi, dimana pada tahap ini orang dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih, minat, masalah dengan orang lain.
Orang dewasa belajar kalau ia sendiri ingin belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang, maka menginginkan suatu perilaku lain di masa mendatang, lalu mengambil langkah untuk mencapai perilaku baru itu.
Dari segi psikologis, orang dewasa dalam situasi komunikasi mempunyai sikap-sikap tertentu, yaitu:
a.       Komunikasi adalah suatu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri, maka orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang lebih mutakhir.
b.      Komunikasi adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia punya perasaan dan pikiran.
c.       Komunikasi adalah hasil kerjasama antar manusia yang saling memberi dan menerima, akan belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling mengungkapkan reaksi dan tanggapannya mengenai suatu masalah.
2.      Suasana Komunikasi
Suasana berkomunikasi dengan orang dewasa adalah:
a.       Suasana hormat menghormati
Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik apabila pendapat pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut berfikir dan mengemukakan fikirannya.
b.      Suasana saling menghargai
Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem nilai yang dianut perlu dihargai. Meremehkan dan menyampingkan harga diri mereka akan dapat menjadi kendala dalam jalannya komunikasi.
c.       Suasana saling percaya
Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu benar adanya akan dapat membawakan hasil yang diharapkan.
d.      Suasana saling terbuka
Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk mendengarkan orang lain. Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternative dapat digali.
3.      Penerapan Model Komunikasi pada Klien Dewasa
a.      Model Shanon & Weaver
Model Sahanon & Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi suatu signal yang sesuai dengan saluran yang digunakan.
Model ini memberikan keuntungan bahwa sumber informasi jelas berkompeten, pesan langsung kepada penerima tanpa perantara. Tetapi model ini juga mempunyai keterbatasan yaitu tidak terlihatnya hubungan transaksional diantara sumber pesan dan penerima.
Penerapannya terhadap klien dewasa:
        Bila komunikasi ini diterapkan pada klien dewasa, klien akan lebih mudah untuk menerima penjelasan yang disampaikan karena tanpa adanya perantara yang dapat mengurangi kejelasan informasi. Tetapi tidak ada hubungan transaksional antara klien dan perawat, juga tidak ada feedback untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.
b.      Model Komunikasi Leary
Refleksi dari model komunikasi interaksi Leary (1950) ini menggabungkan multidimensional yang ditekankan pada hubungan interaksional antara dua orang, dimana antara individu saling mempengaruhi dan dipengaruhi.
Leary mengamati tingkah laku klien, dimana didapatkan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Dari gambaran model Leary, pesan komunikasi dapat terjadi dalam dua dimensi yaitu Dominan-Submission, dan Hate-Love. Model ini menekankan pentingnya relationship dalam membantu klien pada pelayanan kesehatan secara langsung
Penerapan pada klien dewasa:
        Pada komunikasi ini perlu diterapkan kondisi empati, congruen (sesuai dengan situasi dan kondisi) dan penghargaan yang positif. Sedangkan hasil yang diharapkan dari klien melalui model komunikasi ini adalah adanya saling pengertian dan koping yang lebih efektif.
        Bila diterapkan pada klien dewasa dikondisikan untuk lebih mengarah pada kondisi dimana individu dewasa berada di dalam keadaan stress psikologis
c.       Model Interaksi King
Model King memberikan penekanan pada proses komunikasi antara perawat-klien. King menggunakan system perspektif untuk menggambarkan bagaimana professional kesehatan (perawat) untuk memberi bantuan kepada klien. Pada dasarnya model ini meyakinkan bahwa interaksi perawat-klien secara simultan membuat keputusan tentang keadaan mereka dan tentang orang lain dan berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi.
Keputusan berperan penting yang merangsang terjadi reaksi. Interaksi merupakan proses dinamis yang meliputi hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan dan tindakan perawat-klien. Transaksi adalah hubungan relationship yang timbal balik antara perawat-klien selama berpartisipasi. Feedback dalam model ini menunjukan pentingnya arti hubungan perawat-klien.
Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa:
        Model ini sesuai untuk klien dewasa karena mempertimbangkan faktor-faktor intrinsic dan ekstrinsik klien dewasa yang pada akhirnya bertujuan untuk menjalin transaksi. Adanya feedback menguntungkan untuk mengetahui sejauhmana informasi yang disampaikan dapat diterima jelas oleh klien atau untuk mengetahui ada tidaknya persepsi yang salah terhadap pesan yang disampaikan.
d.      Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi ini difokuskan pada transaksi antara professional kesehatan-klien. Tiga fator utama dalam dalam proses komunikasi kesehatan yaitu:
1)      Relationship
Hubungan relationship dikondisikan untuk hubungan interpersonal, bagaimana seorang professional dapat meyakinkan orang tersebut.
2)      Transaksi
Transaksi merupakan kesepakatan interaksi antar partisipan di dalam proses komunikasi tersebut.
3)      Konteks
Konteks yaitu komunikasi kesehatan yang memiliki topik utama tentang kesehatan klien dan biasanya disesuaikan dengan tempat dan situasi
Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa:
      Model komunikasi ini juga dapat diterapkan pada klien dewasa, karena professional kesehatan (perawat) memperhatikan karakteristik dari klien yang akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain. Transaksi yang dilakukan terjadi secara berkesinambungan, tidak statis dan umpan balik. Komunikasi ini juga melibatkan orang lain yang berpengaruh terhadap kesehatan klien. Konteks komunikasi disesuaikn dengan tujuan, jenis pelayanan yang diberikan
      Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa memerlukan suatu aturan tertentu seperti sopan santun, bahasa tertentu, melihat tingkat pendidikan, usia, faktor budaya, nilai yang dianut, faktor psikologi, sehingga perawat harus memperhatikan hal-hal tersebut agar tidak terjadi kesalahpahaman. Pada komunikasi orang dewasa diupayakan agar perawat menerima pasien sebagaimana manusia seutuhnya dan perawat harus dapat menerima setiap orang berbeda satu dengan yang lain.










BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut diatas, model konsep komunikasi yang tepad dan dapat diterapkan pada klien dewasa adalah model komunikasi interaksi King dan model komunikasi kesehatan. Karena pada kedua model komunikasi ini menunjukan hubungan relationship yang memperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerima, serta adanya umpan balik untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.
B.     Saran
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik sehingga perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunikasi yang tepat untuk setiap karakteristik klien













DAFTAR PUSTAKA

Mundakir.2006.Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan.Surabaya: Graha Ilmu

Makalah Keperawatan Lansia

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Komunikasi merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi perlu dikembangkan dan dipelihara terus-menerus. Dalam berkomunikasi dengan klien, perawat harus menggunakan tehnik pendekatan khusus agar tercapai pengertian dan perubahan prilaku klien.
Kondisi lansia yang telah mengalami penurunan dalam struktur anatomis maupun fungsi dari organ tubuhnya menuntut pemahaman dan kesadaran tersendiri bagi tenaga kesehatan selama memberikan pelayanan kesehatan. Perubahan yang terjadi baik secara fisik, psikis/emosi, interaksi social maupun spiritual dari lansia membutuhkan pendekatan dan tehnik tersendiri. Untuk interaksi dalam berkomunikasi dengan lansia secara baik, perawat perlu memahami tentang karakteristik lansia, penggunaan tehnik komunikasi yang tepat, dan model-model komunikasi yang memungkinkan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi klien.
B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, masalah  yang dapat kami kaji dalam makalah ini diantaranya:
1.      Bagaimana karakteristik lansia?
2.      Bagaimana pendekatan keperawatan lansia dalam konteks komunikasi?
3.      Bagaimana teknik komunikasi pada lansia?
4.      Apa hambatan komunikasi pada lansia?
5.      Bagaimana teknik perawatan lansia pada reaksi penolakan?
6.      Bagaimana penerapan model komunikasi pada lansia?
C.    Tujuan Penulisan
Dalam pembuatan tugas ini, adapun tujuan yang hendak dicapai penulis yaitu:
1.      Untuk mengetahui karakteristik lansia
2.      Untuk mengetahui pendekatan keperawatan lansia dalam konteks komunikasi
3.      Untuk mengetahui teknik komunikasi pada lansia
4.      Untuk mengetahui hambatan komunikasi pada lansia
5.      Untuk mengetahui teknik perawatan lansia pada reaksi penolakan
6.      Untuk mengetahui penerapan model komunikasi pada lansia

D.    Metode Penulisan
Metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini, yaitu :
1.         Metode Kepustakaan
Adalah metode pengumpulan data yang digunakan penulis dengan mempergunakan buku atau refrensi yang berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas.
2.         Metode Media Informatika
Adalah metode dengan mencari data melalui situs-situs di internet.















BAB II
PEMBAHASAN

A.    Komunikasi dengan Lansia
1.      Karakteristik Lansia
Berdasarkan usianya, organisasi kesehatan dunia (WHO) mengelompokan usia lanjut menjadi empat macam, meliputi:
a.       Usia pertengahan (middle age), kelompok usia 45 sampai 59 tahun.
b.      Usia lanjut (elderly), kelompok usia antara 60 sampai 70 tahun.
c.       Usia lanjut usai (old), kelompok usia antara 75 sampai 90 tahun.
d.      Usia tua (veryold), kelompok usia diatas 90 tahun
Meskipun batasan usia sangat beragam untuk menggolongkan lansia namun perubahan-perubahan akibat dari usia tersebut telah dapat diindentifikasi, misalnya perubahan pada aspek fisik berupa perubahan neurologis & sensorik, perubahan visual, perubahan pendengaran. Perubahan-perubahan tersebut dapat menghambat proses penerimaan & interpretasi terhadap maksud komunikasi. Perubahan ini juga menyebabkan klien lansia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Belum lagi perubahan kognitif yang berpengaruh pada tingkat intelegensia, kemampuan belajar, daya memori dan motivasi klien.
Perubahan emosi yang sering nampak adalah berupa reaksi penolakan terhadap kondisi yang terjadi. Gejala-gejala penolakan tersebut misalnya:
a.       Tidak percaya terhadap diagnosa, gejala, perkembangan serta keterangan yang diberikan petugas kesehatan
b.      Mengubah keterangan sedemikian rupa, sehingga diterima keliru
c.       Menolak membicarakan perawatannya di rumah sakit
d.      Menolak ikutserta dalam perawatan dirinya secara umum, khususnya tindakan yang langsung mengikutsertakan dirinya
e.       Menolak nasehat-nasehat misalnya, istirahat baring, berganti posisi tidur, terutama bila nasehat tersebut demi kenyamanan klien
2.      Pendekatan Keperawatan Lansia dalam Konteks Komunikasi
a.       Pendekatan fisik
Mencari informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian yang dialami, perubahan fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan serta penyakit yang dapat dicegah progresifitasnya. Pendekatan ini relatif lebih mudah dilaksansakan dan dicarikan solusinya karena riil dan mudah diobservasi.
b.      Pendekatan psikologis
Karena pendekatan ini sifatnya abstrak dan mengarah pada perubahan perilaku, maka umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk meaksanakan pendekatan ini, perawat berperan sebagai konselor, advokat, supporter, interpreter terhadap sesuatu yang asing atau sebagai penampung masalah-masalah rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab bagi klien.
c.       Pendekatan sosial
Pendekatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan ketrampilan berinteraksi dengan lingkungan. Mengadakan diskusi, tukar pikiran, bercerita, bermain atau mengadakan kegiatan-kegiatan kelompok merupakan implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesame lansia maupun dengan petugas kesehatan.
d.      Pendekatan spiritual
Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnya terutama bila klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian. Pendekatan spiritual ini cukup efektif terutama bagi klien yang mempunyai kesadaran yang tinggi dan latar belakang keagamaan yang baik.
3.      Tehnik Komunikasi pada Lansia
a.       Teknik asertif
Asertif adalah sikap yang dapat menerima, memahami pasangan bicara dengan menunjukan sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan ketika pasangan bicara agar maksud komunikasi atau pembicaraan dapat dimengerti, asertif merupakan pelaksanaan dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien lansia.
b.      Responsif
Reaksi petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien merupakan bentuk perhatian petugas kepada klien. Ketika perawat mengetahui adanya perubahan sikap atau kebiasaan klien sekecil apapun hendaknya segera menanyakan atau klarifikasi tentang perubahan tersebut, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, “apa yang sedang bapak/ibu fikirkan saat ini? Apa yang bisa saya bantu?”. Berespon berarti bersikap aktif, tidak menunggu permintaan bantuan dari klien. Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan tenang bagi klien.
c.       Fokus
Sikap ini merupakan upaya perawat untuk tetap konsisten terhadap materi komunikasi yang diinginkan. Ketika klien mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan di luar materi yang diinginkan. Ketika klien mengungkapkan pernyataan-pernyataan di luar materi yang diinginkan, maka perawat hendaknya mengarahkan maksud pembicaraan. Upaya ini perlu diperhatikan karena umumnya klien lansia senang menceritakan hal-hal yang mungkin tidak relevan untuk kepentingan petugas kesehatan.
d.      Supportif
Perubahan yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis secara bertahap menyebabkan emosi klien relative menjadi labil. Perubahan ini perlu disikapi dengan menjaga kestabilan emosi klien lansia, misalnya dengan mengiyakan, senyum dan mengangguk kepala ketika lansia mengungkapkan perasaannya sebagai sikap hormat dan menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak merasa menjadi beban bagi keluarganya, dengan demikian diharapkan klien termotivasi untuk mandiri dan berkarya sesuai kemampuannya. Selama memberi dukungan baik secara materiil dan moril, petugas kesehatan jangan sampai terkesan menggurui atau mengajari klien karena ini dapat merendahkan kepercayaan klien kepada perawat atau petugas kesehatan lainnya.
e.       Klarifikasi
Dengan berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses komunikasi tidak berlangsung dengan lancer. Klarifikasi dengan cara mengajukan pertanyaan ulang dan memberi penjelasan lebih dari satu kali perlu dilakukan oleh perawat agar maksud pembicaraan kita dapat diterima dan dipersepsikan sama oleh klien.
f.       Sabar dan ikhlas
Klien lansia mengalami perubahan-perubahan yang terkadang merepotkan dan kekanak-kanakan, bila perubahan ini tidak disikapi dengan sabar dan ikhlas dapat menimbulkan perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi yang dilakukan tidak terapeutik, solutif, namun dapat berakibat komunikasi berlangsung emosional dan menimbulkan kerusakan hubungan antara klien dengan petugas kesehatan.
4.      Hambatan Komunkiasi pada Lansia
Proses komunikasi antara petugas kesehatan dengan klien lansia akan terganggu apabila ada sikap agresif dan sikap nonasresif
a.       Agresif
Sikap agresif dalam berkomunikasi biasanya ditandai dengan perilaku-perilaku di bawah ini :
1)      Berusaha mengontrol dan mendominasi orang lain (lawan bicara)
2)      Meremehkan orang lain
3)      Mempertahankan haknya dengan menyerang orang lain
4)      Menonjolkan diri
5)      Mempermalukan orang lain di depan umum, baik dengan perkataan maupun tindakan
b.      Nonasertif
Tanda-tanda dari sikap nonasertif ini adalah :
1)      Menarik diri bila diajak berbicara
2)      Merasa tidak sebaik orang lain (rendah diri)
3)      Merasa tidak berdaya
4)      Tidak berani mengungkapkan keyakinan
5)      Membiarkan orang lain membuat keputusan untuk dirinya
6)      Tampil diam (pasif)
7)      Mengikuti kehendak orang lain
8)      Mengorbankan kepentingan dirinya untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain
 Adanya hambatan komunikasi kepada lansia merupakan hal yang wajar seiring dengan menurunnya fungsi fisik dan psikologis klien. Namun sebagai tenaga kesehatan professional, perawat dituntut mampu mengatasi hambatan tersebut, untuk itu perlu adanya tehnik atau tip-tip tertentu yang perlu diperhatikan agar komunikasi dapat berlangsung efektif, antara lain :
a.       Selalu mulai komunikasi dengan mengecek fungsi pendengaran klien.
b.      Kerakan suara anda jika perlu.
c.       Dapatkan perhatian klien sebelum berbicara. Pandanglah dia sehingga ia dapat melihat mulut anda.
d.      Atur lingkungan sehingga menjadi kondusif untuk komunikasi yang baik. Kurangi gangguan visual dan auditory. Pastikan adanya pencahayaan yang cukup.
e.       Ketika merawat orang tua dengan gangguan komunikasi, ingat kelemahannya. Jangan menganggap kemacetan komunikasi merupakan hasil bahwa klien tidak kooperatif.
f.       Jangan berharap untuk berkomunikasi dengan cara yang sama dengan orang yang tidak mengalami gangguan. Sebaliknya bertindaklah sebagai patner yang tugasnya memfasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaan dan pemahamannya.
g.      Berbicara dengan pelan dan jelas saat menatap matanya, gunakan kalimat pendek dengan bahasa yang sederhana.
h.      Bantulah kata-kata anda dengan isyarat visual.
i.        Serasikan bahasa tubuh anda dengan pembicaraan anda, misalnya ketika melaporkan hasil tes yang diinginkan, pesan yang menyatakan bahwa berita tersebut adalah bagus seharusnya dibuktikan dengan ekspresi, postur dan nada suara anda yang mengembirakan (mislanya dengan senyum, ceria atau tertawa secukupnya).
j.        Ringkaslah hal-hal yang paling penting dari pembicaraan tersebut.
k.      Berilah klien waktu yang banyak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan anda.
l.        Biarkan ia membuat kesalahan, jangan menegurnya secara langsung, tahan keinginan anda untuk menyelesaikan kalimat.
m.    Jadilah pendengar yang baik walaupun keinginan sulit mendengarkannya.
n.      Arahkan ke suatu topik pada suatu saat.
o.      Jika mungkin ikutkan keluarga atau yang merawat dalam ruangan bersama anda. Orang ini biasanya paling akrab dengan pola komunikasi klien dan dapat membantu proses komunikasi.
5.      Teknik Perawatan Lansia pada Reaksi Penolakan
Penolakan adalah ungkapan ketidakmampuan seseorang untuk mengakui secara sadar terhadap pikiran, keinginan, perasaan atau kebutuhan pada kejadian-kejadian nyata atau sesuatu yang merupakan ancaman. Penolakan merupakan reaksi ketidaksiapan lansia menerima perubahan yang terjadi pada dirinya.
Perawat dalam menjalin komunikasi perlu memahami kondisi ini sehingga dapat menjalin komunikasi yang efektif, tidak menyinggung perasaan lansia yang relatif sensitif.
Adanya beberapa langkah yang bisa dilaksanakan untuk menghadapi klien lansia dengan reaksi penolakan, antara lain:
a.       Kenali segala reaksi penolakan klien
Membiarkan klien lansia bertingkah laku dalam tenggang waktu tertentu. Hal ini merupakan mekanisme penyesuaian diri sejauh tidak membahayakan klien, orang lain serta lingkungannya, kemudian lakukan langkah-langkah berikut:
1)      Identifikasi pikiran-pikiran yang paling membahayakan dengan cara mengobservasi klien bila sedang mengalami puncak reaksinya.
2)      Ungkapkan kenyataan-kenyataan yang dialami klien secara perlahan-lahan dimulai dari kenyataan yang merisaukan.
3)      Jangan menyokong penolakan klien, akan tetapi berikan perawatan yang cocok bagi klien dan bicarakan sesering mungkin bersamanya jangan sampai menolak.
b.      Orientasikan klien lansia pada pelaksanaan perawatan diri sendiri
Langkah tersebut bertujuan untuk mempermudah proses penerimaan klien terhadap perawatan yang akan dilakukan serta upaya untuk memandirikan klien, dengan jalan sebagai berikut:
1)      Libatkan klien dalam perawatan dirinya, misalnya perencanaan waktu, tempat dan macam perawatan.
2)      Puji klien lansia karena usahanya untuk merawat dirinya atau mulai mengenal kenyataan.
3)      Membantu klien lansia untuk mengungkapkan keresahan atau perasaan sedihnya dengan mempergunakan pertanyaan terbuka, mendengarkan dan meluangkan waktu bersamanya.
c.       Libatkan keluarga atau pihak terdekat dengan tepat
Langkah ini bertujuan untuk membantu perawat atau petugas kesehatan memperoleh sumber informasi atau data klien dan mengefektifkan rencana/tindakan dapat terealisasikan dengan baik dan cepat. Upaya ini dilaksanakan dengan cara-cara sebagai berikut:
1)      Melibatkan keluarga atau pihak terkait dalam membantu klien lansia menentukan perasaan-perasaannya.
2)      Meluangkan waktu untuk menerangkan kepada mereka yang bersangkutan tentang apa yang sedang terjadi pada klien lansia serta hal-hal yang dapat dilakukan dalam rangka membantu.
3)      Hendaknya pihak-pihak lain memuji usaha klien lansia untuk menerima kenyataan.
4)      Menyadarkan pihak-pihak lain akan pentingnya hukuman (bukan hukuman fisik) apabila klien lansia mempergunakan penolakan atau denial.
6.      Penerapan Model Komunikasi pada Lansia
a.       Model komunikasi Shanon Weaver
Tujuan komunikasi pada lansia dengan reaksi penolakan adalah adanya perubahan perilaku lansia dari penolakan menjadi kooperatif. Dalam komunikasi ini diperlukan keterlibatan anggota keluarga sebagai transmitter untuk mengenal lebih jauh tentang klien.
Kelebihan dalam komunikasi ini melibatkan anggota keluarga atau orang lain yang berpengaruh. Kekurangan model komunikasi ini memerlukan waktu yang cukup lama karena klien dalam reaksi penolakan. Tidak dapat melakukan evaluasi sejauhmana perubahan perilaku yang terjadi pada klien, karena tidak ada feed back (umpan balik)
b.      Model SMCR
Rumus S-M-C-R adalah singkatan dari istilah-istilah : S singkatan dari Source yang berarti sumber atau komunikator ; M singkatan dari Message yang berarti pesan ; C singkatan dari Channel yang berarti saluran atau media, sedangkan R singkatan dari Receiver yang berarti penerima atau komunikan
Kelebihan model ini adalah proses komunikasi yang terjadi relatif simple. Model ini akan efektif bila kondisi lansia masih sehat, belum banyak mengalami penurunan baik aspek fisik maupun psikis. Kekurangan model ini klien tidak memenuhi syarat seperti yang diterapkan mempunyai keterampilan, pengetahuan, sikap, sistim social dan kultur; karena penolakannya. Memerlukan proses yang lama dan tergantung kondisi klien lansia.
c.       Model Leary
Model ini antar individu saling mempengaruhi dan dipengaruhi, dimana respon seseorang dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut diperlakukan. Oleh karena itu dalam berkomunikasi dengan lansia harus hati-hati, jangan sampai menyinggung perasaannya. Dalam berkomunikasi dengan klien lansia seseorang perawat diharapkan pada rentang love yang banyak karena sifat social perawat sangat dibutuhkan oleh lansia. Lansia membutuhkan perhatian yang lebih dalam berkomunikasi, untuk mengungkapkan perasaannya. Diharapkan perawat harus lebih banyak mendengar apa yang diungkapkan.
Kelebihan model ini adalah terjadinya interaksi atau hubungan relationship; hubungan perawat-klien lebih dekat sehingga masalah lebih dapat terselesaikan. Dan kelemahan model ini perawat lebih dominan dank lien lansia patuh
d.      Model terapeutik
Model ini membantu mendorong melaksanakan komunikasi dengan empati, meghargai dan harmonis. Dimana dibutuhkan kondisi empati, kesesuaian dan penghargaan. Lansia dengan penolakan sulit bagi kita melaksanakan empati. Kita tidak boleh menyokong penolakan tetapi berikan perawatan yang cocok dan berbicara sesering mungkin, jangan sampai menolak.
Kelebihan model ini lansia akan lebih paham apa yang kita bicarakan; kopingnya lebih efektif. Sedangkan kelemahan model ini kondisi empati kurang cocok diterapkan oleh perawat lansia dengan reaksi penolakan.
e.       Model keyakinan kesehatan
Menekankan pada persepsi klien untuk mencari sehat, menjauhi sakit, merasakan adanya ancaman/manfaat untuk mempertahankan kesehatannya. Padahal lansia dengan reaksi penolakan, tidak mersakan adanya ancaman kesehatan, sehingga dalam berkomunikasi dengan lansia dengan reaksi penolakan diperlukan motivasi yang kuat.
Kelebihan model komunikasi ini lansia yang mengetahui adanya ancaman kesehatan akan dapat bermanfaat dan sebagai barrier dalam melaksanakan tindakan pencegahan penyakit. Sedangkan kelemahannya tidak semua lansia merasakan adanya ancaman kesehatan.
f.       Model komunikasi kesehatan
Komunikasi yang berfokus pada transaksi antara professional kesehatan-klien yang sesuai dengan permasalahab kesehatan klien. Pandangan system komunikasi lebih luas yang mencangkup tiga faktor mayor yaitu:
1)      Relationship
Perawat professional mengadakan komunikasi dengan klien lansia haruslah menggunakan ilmu psikososial dan teknik komunikasi dimana perawat haruslah ramah, rapi, bertanggung jawab, tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata yang dapat menyinggung perasaan klien lansia sehingga terjalin hubungan saling percaya. Dalam mengadakan hubungan transaksi hendaknya seorang perawat professional mengetahui permasalahan yang dihadapi klien lansia tersebut. Kemudian bersama-sama menyelesaikan masalah.
2)      Transaksi
Dalam berkomunikasi dengan lansia hendaknya disepakati untuk menyelesaikan masalah klien bukan untuk hal lain. Pada lansia dengan reaksi penolakan harus hati-hati mencari informasi dari klien, memberikan feed back baik verbal maupun non verbal dan hendaknya secara berkesinambungan.
3)      Konteks
Perawat professional harus mengetahui situasi dan permasalahan yang dihadapi klien. Apabila masalah bersifat individu haruslah diselesaikan secara individu dengan tidak mengabaikan tempat/ruangan  dan jenis pelayanan apa yang digunakan. Apabila masalah bersifat umum/kelompok harus diselesaikan secara kelompok.
Kelebihan: dapat menyelesaikan masalah klien lansia dengan tuntas. Klien lansia merasa sangat dekat dengan perawat dan merasa sangat diperhatikan. Kelemahan: membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan permasalahan; fasilitas dalam memberikan pelayanan harus lengkap.
g.      Model interaksi King
Kesepakatan sebelum mengadakan interaksi dengan klien lansia. Perawat harus mempunyai persepsi secara ilmiah tentang hal-hal yang akan dikomunikasikan. Persepsi ini kemudian disepakati dengan klien sehingga dapat terjadi suatu aksi yang menyebabkan terjadinya reaksi-interaksi dan transaksi. Kelebihan model ini dimana komunikasi dapat sesuai dengan tujuan jika lansia sudah kooperatif. Sedangkan kelemahan model ini klien lansia dengan reaksi penolakan akan mengalami kesulitan untuk dilakukan komunikasi model ini, karena tidak kooperatif.































BAB III
PENUTUP

A.    Simpulan
Tehnik komunikasi pada lansia dengan reaksi penolakan harus disertai pengetahuan perawatan lansia baik fisik, psikologis, biologis dan spiritual. Klien lansia dengan reaksi penolakan tidak menyadari adanya ancaman pada kesehatannya, karena itu model komunikasi yang sesuai adalah model Leary.
B.     Saran
Dalam tehnik komunikasi model Leary terdapat dua dimensi yang bertentangan, diharapkan perawat dapat menyesuaikan situasi bagaimana seharusnya dia bertindak. Jika klien dalam puncak penolakan maka perawat harus mengobservasi pikiran-pikiran klien, jika klien lansia kooperatif maka perawat dapat berfungsi sebagai teman dan guru serta tempat mencurahkan perasaan klien.
















DAFTAR PUSTAKA

Mundakir.2006.Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan.Surabaya: Graha Ilmu

(Diakses pada tanggal: 2 November 2012)Makalah Keperawatan Lansia