World of Nurse
Dari Sebuah Mimpi, Dari Sebuah Cita-Cita dan Dengan Tekad yang Kuat Semua Akan Terwujud. Dan Saling Berbagi itu Indah :)
Senin, 25 Agustus 2014
Senin, 02 Desember 2013
Makalah Komunikasi Keperawatan Anak
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Komunikasi merupakan alat yang efektif
untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga komunikasi dikembangkan dan
dipelihara secara terus menerus. Komunikasi bertujuan untuk memudahkan,
melancarkan, melaksanakan kegiatan-kegiatan tertentu dalam rangka mencapai
tujuan optimal, baik komunikasi dalam lingkup pekerjaan maupun hubungan antar
manusia.
Pada orang dewasa, mereka mempunyai
sikap, pengetahuan dan keterampilan yang lama menetap dalam dirirnya sehingga
untuk merubah perilakunya sangat sulit. Oleh sebab itu perlu kiranya suatu
model komunikasi yang tepat agar tujuan komunikasi dapat tercapai dengan
efektif.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, masalah yang dapat kami kaji dalam makalah ini
diantaranya:
1.
Bagaimana
komunikasi dengan keluarga?
2.
Bagaimana
komunikasi pada klien dewasa?
3.
Bagaimana
suasana komunikasi pada klien dewasa?
4.
Bagaimana
penerapan model komunikasi pada klien dewasa?
C.
Tujuan Penulisan
Dalam pembuatan tugas ini, adapun tujuan yang hendak
dicapai penulis yaitu:
1.
Untuk mengetahui
komunikasi dengan keluarga
2.
Untuk mengetahui
komunikasi pada klien dewasa
3.
Untuk mengetahui
suasana komunikasi pada klien dewasa
4.
Untuk mengetahui
penerapan model komunikasi pada klien dewasa
D.
Metode Penulisan
Metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini,
yaitu :
1. Metode
Kepustakaan
Adalah metode pengumpulan data yang digunakan
penulis dengan mempergunakan buku atau refrensi yang berkaitan dengan masalah
yang sedang dibahas
2. Metode
Media Informatika
Adalah metode dengan mencari data melalui
situs-situs di internet
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Komunikasi Dengan Keluarga
Komunikasi dengan keluarga merupakan
proses segi tiga antara perawat, orang tua dan anak. Walaupun orang tua
merupakan fokus penting dalam berkomunikasi segi tiga. Saudara kandung, sanak
keluarga lainnya dan pengasuhnya juga merupakan bagian dari proses komunikasi.
Melaksanakan penjajakan terhadap anak
memerlukan input anak itu sendiri (verbal dan non verbal), informasi dengan
orang tua dan observasi perawat itu sendiri. Orang tua merupakan fokus penting
dalam komunikasi segi tiga (anak-orang tua-perawat) walaupun tidak mengabaikan
saudara kandung, sanak saudara atau pembantunya.
Dalam proses komunikasi dalam keluarga
dapat menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Mendorong orang
tua untuk berbicara
Informasi
tentang faktor kehidupan anak. Menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk
menggali data sebanyak mungkin.
2.
Mengarahkan pada
pokok permasalahan
Kemampuan untuk
mengarahkan pada pokok permasalahan selama berwawancara adalah salah satu
kesulitan dalam mencapai tujuan komunikasi efektif. Salah satu pendekatan
adalah menggunakan pertanyaan terbuka dan luas. Langkah ini dilakukan untuk
menghindari komunikasi yang tidak
relevan dan mengefektifkan komunikasi yang terapeutik.
3.
Mendengarkan
Mendengarkan
adalah unsur yang paling penting dalam komunikasi yang efektif. Dalam proses
mendengarkan perawat harus mengarahkan perhatiannya dengan sungguh-sungguh pada
klien.
4.
Diam sejenak
Diam sebagai
satu respon, sering kali merupakan tehnik wawancara yang sulit untuk
dipelajari. Diam bertujuan untuk mengalihkan pikiran, perasaan dan untuk saling
memahami emosinya kadang-kadang perlu menghentikan taktik diam ini dan kembali
berkomunikasi.
5.
Bersikap empati
Empati berarti
ikut merasakan perasaan orang lain secara obyektif. Perawat yang empati
berusaha sebnyak mungkin melihat keadaan dari sudut pandang klien/keluarga.
Empati berbeda dengan simpati, simpati tidak selalu ada unsur hubungan
“membantu” dengan klien.
6.
Meyakinkan
Hampir semua
orang tua ingin menjadi orang tua yang
baik dan ingin menunjukkan kemampuannya
dalam perannya. Orang tua
membutuhkan perawat yang menghargai dan
memperhatikan perannya sebagai orang tua dan ingin agar perawat
memperhatikan anaknya. Hindarkan
pembicaraan yang menyinggung harga diri sebagai orang tua.
7.
Menentukan
masalah
Perawat dan rang
tua harus sepakat bahwa masalah itu ada.
8.
Memecahkan
masalah
Pemahaman dan
pengenalan masalah harus disepakati oleh orang tua kemudian mulai merencanakan
pemecahannya. Perawat harus
mendiskusikan resikonya terhadap keluarga dan mencoba mencari pemecahan masalah
yang lebih efektif.
9.
Mengadaptasi bimbingan
Segera setelah
masalah diidentifikasi dan disetujui oleh perawat dan orang tua, maka dapat mulai
merencanakan pemecahannya. Orang tua yang dilibatkan dalam memecahkan masalah
berpartisipasi penuh selama perawatan berlangsung.
10. Menghindari hambatan-hambatan komunikasi
Hambatan yang
mempengaruhi proses hubungan dalam berkomunikasi:
a.
Sosialisasi
kepada sasaran yang kurang tepat
b.
Meberi
nasehat-nasehat yang tidak ada kaitannya dan yang tidak diperlukan
c.
Melindung suatu
situasi/opini
d.
Memberikan
dorongan sepintas
e.
Menawarkan
keyakinan yang kurang sesuai
f.
Menyelesaikan
kalimat seseorang
g. Mengubah fokus pembicaraan dengan sengaja
B.
Komunikasi Dalam Keperawatan Dewasa
1.
Komunikasi pada Klien Dewasa
Menurut Erikson (1985), pada orang
dewasa terjadi tahap hidup intimasi vs isolasi, dimana pada tahap ini orang
dewasa mampu belajar membagi perasaan cinta kasih, minat, masalah dengan orang
lain.
Orang dewasa belajar kalau ia sendiri
ingin belajar, terdorong akan tidak puas lagi dengan perilakunya yang sekarang,
maka menginginkan suatu perilaku lain di masa mendatang, lalu mengambil langkah
untuk mencapai perilaku baru itu.
Dari segi psikologis, orang dewasa dalam
situasi komunikasi mempunyai sikap-sikap tertentu, yaitu:
a.
Komunikasi
adalah suatu pengetahuan yang diinginkan oleh orang dewasa itu sendiri, maka
orang dewasa tidak diajari tetapi dimotivasikan untuk mencari pengetahuan yang
lebih mutakhir.
b.
Komunikasi
adalah suatu proses emosional dan intelektual sekaligus, manusia punya perasaan
dan pikiran.
c.
Komunikasi
adalah hasil kerjasama antar manusia yang saling memberi dan menerima, akan
belajar banyak, karena pertukaran pengalaman, saling mengungkapkan reaksi dan
tanggapannya mengenai suatu masalah.
2.
Suasana Komunikasi
Suasana
berkomunikasi dengan orang dewasa adalah:
a.
Suasana hormat
menghormati
Orang dewasa akan mampu berkomunikasi dengan baik
apabila pendapat pribadinya dihormati, ia lebih senang kalau ia boleh turut
berfikir dan mengemukakan fikirannya.
b.
Suasana saling
menghargai
Segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, sistem
nilai yang dianut perlu dihargai. Meremehkan dan menyampingkan harga diri
mereka akan dapat menjadi kendala dalam jalannya komunikasi.
c.
Suasana saling
percaya
Saling mempercayai bahwa apa yang disampaikan itu
benar adanya akan dapat membawakan hasil yang diharapkan.
d.
Suasana saling
terbuka
Terbuka untuk mengungkapkan diri dan terbuka untuk
mendengarkan orang lain. Hanya dalam suasana keterbukaan segala alternative
dapat digali.
3.
Penerapan Model Komunikasi pada Klien Dewasa
a.
Model Shanon & Weaver
Model Sahanon &
Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan suatu pesan untuk
dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi
suatu signal yang sesuai dengan saluran yang digunakan.
Model ini memberikan keuntungan bahwa
sumber informasi jelas berkompeten, pesan langsung kepada penerima tanpa
perantara. Tetapi model ini juga mempunyai keterbatasan yaitu tidak terlihatnya
hubungan transaksional diantara sumber pesan dan penerima.
Penerapannya terhadap klien dewasa:
Bila komunikasi ini diterapkan pada klien dewasa,
klien akan lebih mudah untuk menerima penjelasan yang disampaikan karena tanpa
adanya perantara yang dapat mengurangi kejelasan informasi. Tetapi tidak ada
hubungan transaksional antara klien dan perawat, juga tidak ada feedback untuk mengevaluasi tujuan
komunikasi.
b.
Model Komunikasi Leary
Refleksi dari model
komunikasi interaksi Leary (1950) ini menggabungkan multidimensional yang
ditekankan pada hubungan interaksional antara dua orang, dimana antara individu
saling mempengaruhi dan dipengaruhi.
Leary mengamati tingkah laku klien,
dimana didapatkan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.
Dari gambaran model Leary, pesan komunikasi dapat terjadi dalam dua dimensi
yaitu Dominan-Submission, dan Hate-Love. Model ini menekankan
pentingnya relationship dalam
membantu klien pada pelayanan kesehatan secara langsung
Penerapan pada klien dewasa:
Pada komunikasi ini perlu diterapkan kondisi empati,
congruen (sesuai dengan situasi dan
kondisi) dan penghargaan yang positif. Sedangkan hasil yang diharapkan dari
klien melalui model komunikasi ini adalah adanya saling pengertian dan koping
yang lebih efektif.
Bila diterapkan pada klien dewasa
dikondisikan untuk lebih mengarah pada kondisi dimana individu dewasa berada di
dalam keadaan stress psikologis
c.
Model Interaksi King
Model King memberikan
penekanan pada proses komunikasi antara perawat-klien. King menggunakan system
perspektif untuk menggambarkan bagaimana professional kesehatan (perawat) untuk
memberi bantuan kepada klien. Pada dasarnya model ini meyakinkan bahwa
interaksi perawat-klien secara simultan membuat keputusan tentang keadaan
mereka dan tentang orang lain dan berdasarkan persepsi mereka terhadap situasi.
Keputusan berperan penting yang
merangsang terjadi reaksi. Interaksi merupakan proses dinamis yang meliputi
hubungan timbal balik antara persepsi, keputusan dan tindakan perawat-klien.
Transaksi adalah hubungan relationship
yang timbal balik antara perawat-klien selama berpartisipasi. Feedback dalam
model ini menunjukan pentingnya arti hubungan perawat-klien.
Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa:
Model ini sesuai untuk klien dewasa karena
mempertimbangkan faktor-faktor intrinsic dan ekstrinsik klien dewasa yang pada
akhirnya bertujuan untuk menjalin transaksi. Adanya feedback menguntungkan untuk mengetahui sejauhmana informasi yang
disampaikan dapat diterima jelas oleh klien atau untuk mengetahui ada tidaknya
persepsi yang salah terhadap pesan yang disampaikan.
d.
Model Komunikasi Kesehatan
Komunikasi ini
difokuskan pada transaksi antara professional kesehatan-klien. Tiga fator utama
dalam dalam proses komunikasi kesehatan yaitu:
1)
Relationship
Hubungan relationship
dikondisikan untuk hubungan interpersonal, bagaimana seorang professional dapat
meyakinkan orang tersebut.
2)
Transaksi
Transaksi merupakan kesepakatan interaksi antar
partisipan di dalam proses komunikasi tersebut.
3)
Konteks
Konteks yaitu komunikasi kesehatan yang memiliki
topik utama tentang kesehatan klien dan biasanya disesuaikan dengan tempat dan
situasi
Penerapannya terhadap komunikasi klien dewasa:
Model komunikasi ini juga dapat diterapkan pada
klien dewasa, karena professional kesehatan (perawat) memperhatikan
karakteristik dari klien yang akan mempengaruhi interaksinya dengan orang lain.
Transaksi yang dilakukan terjadi secara berkesinambungan, tidak statis dan
umpan balik. Komunikasi ini juga melibatkan orang lain yang berpengaruh
terhadap kesehatan klien. Konteks komunikasi disesuaikn dengan tujuan, jenis
pelayanan yang diberikan
Dalam berkomunikasi dengan orang dewasa
memerlukan suatu aturan tertentu seperti sopan santun, bahasa tertentu, melihat
tingkat pendidikan, usia, faktor budaya, nilai yang dianut, faktor psikologi,
sehingga perawat harus memperhatikan hal-hal tersebut agar tidak terjadi
kesalahpahaman. Pada komunikasi orang dewasa diupayakan agar perawat menerima
pasien sebagaimana manusia seutuhnya dan perawat harus dapat menerima setiap
orang berbeda satu dengan yang lain.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut diatas,
model konsep komunikasi yang tepad dan dapat diterapkan pada klien dewasa
adalah model komunikasi interaksi King dan model komunikasi kesehatan. Karena
pada kedua model komunikasi ini menunjukan hubungan relationship yang
memperhatikan karakteristik dari klien dan melibatkan pengirim dan penerima,
serta adanya umpan balik untuk mengevaluasi tujuan komunikasi.
B.
Saran
Komunikasi merupakan alat yang efektif
untuk mempengaruhi tingkah laku manusia ke arah yang lebih baik sehingga
perawat perlu untuk menguasai tehnik dan model konsep komunikasi yang tepat
untuk setiap karakteristik klien
DAFTAR PUSTAKA
Mundakir.2006.Komunikasi Keperawatan Aplikasi dalam
Pelayanan.Surabaya: Graha Ilmu
http://body-semuaada.blogspot.com/2011/03/komunikasi-pada-keperawatan-anak.html (Diakses pada tanggal: 28 Oktober 2012)Makalah Komunikasi Keperawatan Anak
Makalah Keperawatan Lansia
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Komunikasi
merupakan alat yang efektif untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, sehingga
komunikasi perlu dikembangkan dan dipelihara terus-menerus. Dalam berkomunikasi
dengan klien, perawat harus menggunakan tehnik pendekatan khusus agar tercapai
pengertian dan perubahan prilaku klien.
Kondisi
lansia yang telah mengalami penurunan dalam struktur anatomis maupun fungsi
dari organ tubuhnya menuntut pemahaman dan kesadaran tersendiri bagi tenaga
kesehatan selama memberikan pelayanan kesehatan. Perubahan yang terjadi baik
secara fisik, psikis/emosi, interaksi social maupun spiritual dari lansia
membutuhkan pendekatan dan tehnik tersendiri. Untuk interaksi dalam
berkomunikasi dengan lansia secara baik, perawat perlu memahami tentang
karakteristik lansia, penggunaan tehnik komunikasi yang tepat, dan model-model
komunikasi yang memungkinkan dapat diterapkan sesuai dengan kondisi klien.
B.
Rumusan Masalah
Dari
latar belakang di atas, masalah yang
dapat kami kaji dalam makalah ini diantaranya:
1.
Bagaimana
karakteristik lansia?
2.
Bagaimana
pendekatan keperawatan lansia dalam konteks komunikasi?
3.
Bagaimana teknik
komunikasi pada lansia?
4.
Apa hambatan
komunikasi pada lansia?
5.
Bagaimana teknik
perawatan lansia pada reaksi penolakan?
6.
Bagaimana
penerapan model komunikasi pada lansia?
C.
Tujuan Penulisan
Dalam
pembuatan tugas ini, adapun tujuan yang hendak dicapai penulis yaitu:
1.
Untuk mengetahui
karakteristik lansia
2.
Untuk mengetahui
pendekatan keperawatan lansia dalam konteks komunikasi
3.
Untuk mengetahui
teknik komunikasi pada lansia
4.
Untuk mengetahui
hambatan komunikasi pada lansia
5.
Untuk mengetahui
teknik perawatan lansia pada reaksi penolakan
6.
Untuk mengetahui
penerapan model komunikasi pada lansia
D.
Metode Penulisan
Metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini,
yaitu :
1. Metode
Kepustakaan
Adalah metode pengumpulan data yang digunakan
penulis dengan mempergunakan buku atau refrensi yang berkaitan dengan masalah
yang sedang dibahas.
2. Metode
Media Informatika
Adalah metode dengan mencari data melalui
situs-situs di internet.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Komunikasi dengan Lansia
1.
Karakteristik Lansia
Berdasarkan usianya, organisasi kesehatan dunia
(WHO) mengelompokan usia lanjut menjadi empat macam, meliputi:
a.
Usia pertengahan
(middle age), kelompok usia 45 sampai
59 tahun.
b.
Usia lanjut (elderly), kelompok usia antara 60 sampai
70 tahun.
c.
Usia lanjut usai
(old), kelompok usia antara 75 sampai
90 tahun.
d.
Usia tua (veryold), kelompok usia diatas 90 tahun
Meskipun batasan usia
sangat beragam untuk menggolongkan lansia namun perubahan-perubahan akibat dari
usia tersebut telah dapat diindentifikasi, misalnya perubahan pada aspek fisik
berupa perubahan neurologis & sensorik, perubahan visual, perubahan
pendengaran. Perubahan-perubahan tersebut dapat menghambat proses penerimaan
& interpretasi terhadap maksud komunikasi. Perubahan ini juga menyebabkan
klien lansia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Belum lagi perubahan
kognitif yang berpengaruh pada tingkat intelegensia, kemampuan belajar, daya
memori dan motivasi klien.
Perubahan emosi yang
sering nampak adalah berupa reaksi penolakan terhadap kondisi yang terjadi.
Gejala-gejala penolakan tersebut misalnya:
a.
Tidak percaya
terhadap diagnosa, gejala, perkembangan serta keterangan yang diberikan petugas
kesehatan
b.
Mengubah
keterangan sedemikian rupa, sehingga diterima keliru
c.
Menolak
membicarakan perawatannya di rumah sakit
d.
Menolak
ikutserta dalam perawatan dirinya secara umum, khususnya tindakan yang langsung
mengikutsertakan dirinya
e.
Menolak
nasehat-nasehat misalnya, istirahat baring, berganti posisi tidur, terutama
bila nasehat tersebut demi kenyamanan klien
2.
Pendekatan Keperawatan Lansia dalam Konteks
Komunikasi
a.
Pendekatan fisik
Mencari
informasi tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian yang dialami,
perubahan fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan
dikembangkan serta penyakit yang dapat dicegah progresifitasnya. Pendekatan ini
relatif lebih mudah dilaksansakan dan dicarikan solusinya karena riil dan mudah
diobservasi.
b.
Pendekatan
psikologis
Karena
pendekatan ini sifatnya abstrak dan mengarah pada perubahan perilaku, maka
umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama. Untuk meaksanakan pendekatan ini,
perawat berperan sebagai konselor, advokat, supporter, interpreter terhadap
sesuatu yang asing atau sebagai penampung masalah-masalah rahasia yang pribadi
dan sebagai sahabat yang akrab bagi klien.
c.
Pendekatan sosial
Pendekatan
ini dilaksanakan untuk meningkatkan ketrampilan berinteraksi dengan lingkungan.
Mengadakan diskusi, tukar pikiran, bercerita, bermain atau mengadakan
kegiatan-kegiatan kelompok merupakan implementasi dari pendekatan ini agar
klien dapat berinteraksi dengan sesame lansia maupun dengan petugas kesehatan.
d.
Pendekatan
spiritual
Perawat
harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama
yang dianutnya terutama bila klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian.
Pendekatan spiritual ini cukup efektif terutama bagi klien yang mempunyai
kesadaran yang tinggi dan latar belakang keagamaan yang baik.
3.
Tehnik Komunikasi pada Lansia
a.
Teknik asertif
Asertif
adalah sikap yang dapat menerima, memahami pasangan bicara dengan menunjukan
sikap peduli, sabar untuk mendengarkan dan memperhatikan ketika pasangan bicara
agar maksud komunikasi atau pembicaraan dapat dimengerti, asertif merupakan
pelaksanaan dan etika berkomunikasi. Sikap ini akan sangat membantu petugas
kesehatan untuk menjaga hubungan yang terapeutik dengan klien lansia.
b.
Responsif
Reaksi
petugas kesehatan terhadap fenomena yang terjadi pada klien merupakan bentuk
perhatian petugas kepada klien. Ketika perawat mengetahui adanya perubahan
sikap atau kebiasaan klien sekecil apapun hendaknya segera menanyakan atau
klarifikasi tentang perubahan tersebut, misalnya dengan mengajukan pertanyaan,
“apa yang sedang bapak/ibu fikirkan saat ini? Apa yang bisa saya bantu?”.
Berespon berarti bersikap aktif, tidak menunggu permintaan bantuan dari klien.
Sikap aktif dari petugas kesehatan ini akan menciptakan perasaan tenang bagi
klien.
c.
Fokus
Sikap
ini merupakan upaya perawat untuk tetap konsisten terhadap materi komunikasi
yang diinginkan. Ketika klien mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan di luar
materi yang diinginkan. Ketika klien mengungkapkan pernyataan-pernyataan di
luar materi yang diinginkan, maka perawat hendaknya mengarahkan maksud
pembicaraan. Upaya ini perlu diperhatikan karena umumnya klien lansia senang
menceritakan hal-hal yang mungkin tidak relevan untuk kepentingan petugas
kesehatan.
d.
Supportif
Perubahan
yang terjadi pada lansia, baik pada aspek fisik maupun psikis secara bertahap
menyebabkan emosi klien relative menjadi labil. Perubahan ini perlu disikapi
dengan menjaga kestabilan emosi klien lansia, misalnya dengan mengiyakan,
senyum dan mengangguk kepala ketika lansia mengungkapkan perasaannya sebagai
sikap hormat dan menghargai selama lansia berbicara. Sikap ini dapat
menumbuhkan kepercayaan diri klien lansia sehingga lansia tidak merasa menjadi
beban bagi keluarganya, dengan demikian diharapkan klien termotivasi untuk
mandiri dan berkarya sesuai kemampuannya. Selama memberi dukungan baik secara
materiil dan moril, petugas kesehatan jangan sampai terkesan menggurui atau
mengajari klien karena ini dapat merendahkan kepercayaan klien kepada perawat
atau petugas kesehatan lainnya.
e.
Klarifikasi
Dengan
berbagai perubahan yang terjadi pada lansia, sering proses komunikasi tidak
berlangsung dengan lancer. Klarifikasi dengan cara mengajukan pertanyaan ulang
dan memberi penjelasan lebih dari satu kali perlu dilakukan oleh perawat agar
maksud pembicaraan kita dapat diterima dan dipersepsikan sama oleh klien.
f.
Sabar dan ikhlas
Klien
lansia mengalami perubahan-perubahan yang terkadang merepotkan dan
kekanak-kanakan, bila perubahan ini tidak disikapi dengan sabar dan ikhlas dapat
menimbulkan perasaan jengkel bagi perawat sehingga komunikasi yang dilakukan
tidak terapeutik, solutif, namun dapat berakibat komunikasi berlangsung
emosional dan menimbulkan kerusakan hubungan antara klien dengan petugas
kesehatan.
4.
Hambatan Komunkiasi pada Lansia
Proses komunikasi
antara petugas kesehatan dengan klien lansia akan terganggu apabila ada sikap
agresif dan sikap nonasresif
a.
Agresif
Sikap
agresif dalam berkomunikasi biasanya ditandai dengan perilaku-perilaku di bawah
ini :
1)
Berusaha
mengontrol dan mendominasi orang lain (lawan bicara)
2)
Meremehkan orang
lain
3)
Mempertahankan
haknya dengan menyerang orang lain
4)
Menonjolkan diri
5)
Mempermalukan
orang lain di depan umum, baik dengan perkataan maupun tindakan
b.
Nonasertif
Tanda-tanda
dari sikap nonasertif ini adalah :
1)
Menarik diri
bila diajak berbicara
2)
Merasa tidak
sebaik orang lain (rendah diri)
3)
Merasa tidak
berdaya
4)
Tidak berani
mengungkapkan keyakinan
5)
Membiarkan orang
lain membuat keputusan untuk dirinya
6)
Tampil diam
(pasif)
7)
Mengikuti
kehendak orang lain
8)
Mengorbankan
kepentingan dirinya untuk menjaga hubungan baik dengan orang lain
Adanya hambatan komunikasi kepada lansia
merupakan hal yang wajar seiring dengan menurunnya fungsi fisik dan psikologis
klien. Namun sebagai tenaga kesehatan professional, perawat dituntut mampu
mengatasi hambatan tersebut, untuk itu perlu adanya tehnik atau tip-tip
tertentu yang perlu diperhatikan agar komunikasi dapat berlangsung efektif,
antara lain :
a.
Selalu mulai
komunikasi dengan mengecek fungsi pendengaran klien.
b.
Kerakan suara
anda jika perlu.
c.
Dapatkan
perhatian klien sebelum berbicara. Pandanglah dia sehingga ia dapat melihat
mulut anda.
d.
Atur lingkungan
sehingga menjadi kondusif untuk komunikasi yang baik. Kurangi gangguan visual
dan auditory. Pastikan adanya pencahayaan yang cukup.
e.
Ketika merawat
orang tua dengan gangguan komunikasi, ingat kelemahannya. Jangan menganggap
kemacetan komunikasi merupakan hasil bahwa klien tidak kooperatif.
f.
Jangan berharap
untuk berkomunikasi dengan cara yang sama dengan orang yang tidak mengalami
gangguan. Sebaliknya bertindaklah sebagai patner yang tugasnya memfasilitasi
klien untuk mengungkapkan perasaan dan pemahamannya.
g.
Berbicara dengan
pelan dan jelas saat menatap matanya, gunakan kalimat pendek dengan bahasa yang
sederhana.
h.
Bantulah kata-kata
anda dengan isyarat visual.
i.
Serasikan bahasa
tubuh anda dengan pembicaraan anda, misalnya ketika melaporkan hasil tes yang
diinginkan, pesan yang menyatakan bahwa berita tersebut adalah bagus seharusnya
dibuktikan dengan ekspresi, postur dan nada suara anda yang mengembirakan
(mislanya dengan senyum, ceria atau tertawa secukupnya).
j.
Ringkaslah
hal-hal yang paling penting dari pembicaraan tersebut.
k.
Berilah klien
waktu yang banyak untuk bertanya dan menjawab pertanyaan anda.
l.
Biarkan ia
membuat kesalahan, jangan menegurnya secara langsung, tahan keinginan anda
untuk menyelesaikan kalimat.
m.
Jadilah
pendengar yang baik walaupun keinginan sulit mendengarkannya.
n.
Arahkan ke suatu
topik pada suatu saat.
o.
Jika mungkin
ikutkan keluarga atau yang merawat dalam ruangan bersama anda. Orang ini
biasanya paling akrab dengan pola komunikasi klien dan dapat membantu proses
komunikasi.
5.
Teknik Perawatan Lansia pada Reaksi Penolakan
Penolakan adalah
ungkapan ketidakmampuan seseorang untuk mengakui secara sadar terhadap pikiran,
keinginan, perasaan atau kebutuhan pada kejadian-kejadian nyata atau sesuatu
yang merupakan ancaman. Penolakan merupakan reaksi ketidaksiapan lansia
menerima perubahan yang terjadi pada dirinya.
Perawat dalam menjalin
komunikasi perlu memahami kondisi ini sehingga dapat menjalin komunikasi yang
efektif, tidak menyinggung perasaan lansia yang relatif sensitif.
Adanya beberapa langkah
yang bisa dilaksanakan untuk menghadapi klien lansia dengan reaksi penolakan,
antara lain:
a.
Kenali segala
reaksi penolakan klien
Membiarkan
klien lansia bertingkah laku dalam tenggang waktu tertentu. Hal ini merupakan
mekanisme penyesuaian diri sejauh tidak membahayakan klien, orang lain serta
lingkungannya, kemudian lakukan langkah-langkah berikut:
1)
Identifikasi
pikiran-pikiran yang paling membahayakan dengan cara mengobservasi klien bila
sedang mengalami puncak reaksinya.
2)
Ungkapkan
kenyataan-kenyataan yang dialami klien secara perlahan-lahan dimulai dari
kenyataan yang merisaukan.
3)
Jangan menyokong
penolakan klien, akan tetapi berikan perawatan yang cocok bagi klien dan
bicarakan sesering mungkin bersamanya jangan sampai menolak.
b.
Orientasikan
klien lansia pada pelaksanaan perawatan diri sendiri
Langkah
tersebut bertujuan untuk mempermudah proses penerimaan klien terhadap perawatan
yang akan dilakukan serta upaya untuk memandirikan klien, dengan jalan sebagai
berikut:
1)
Libatkan klien
dalam perawatan dirinya, misalnya perencanaan waktu, tempat dan macam
perawatan.
2)
Puji klien
lansia karena usahanya untuk merawat dirinya atau mulai mengenal kenyataan.
3)
Membantu klien
lansia untuk mengungkapkan keresahan atau perasaan sedihnya dengan
mempergunakan pertanyaan terbuka, mendengarkan dan meluangkan waktu bersamanya.
c.
Libatkan
keluarga atau pihak terdekat dengan tepat
Langkah
ini bertujuan untuk membantu perawat atau petugas kesehatan memperoleh sumber
informasi atau data klien dan mengefektifkan rencana/tindakan dapat
terealisasikan dengan baik dan cepat. Upaya ini dilaksanakan dengan cara-cara
sebagai berikut:
1)
Melibatkan
keluarga atau pihak terkait dalam membantu klien lansia menentukan
perasaan-perasaannya.
2)
Meluangkan waktu
untuk menerangkan kepada mereka yang bersangkutan tentang apa yang sedang
terjadi pada klien lansia serta hal-hal yang dapat dilakukan dalam rangka
membantu.
3)
Hendaknya
pihak-pihak lain memuji usaha klien lansia untuk menerima kenyataan.
4)
Menyadarkan
pihak-pihak lain akan pentingnya hukuman (bukan hukuman fisik) apabila klien
lansia mempergunakan penolakan atau denial.
6.
Penerapan Model Komunikasi pada Lansia
a.
Model komunikasi
Shanon Weaver
Tujuan komunikasi pada
lansia dengan reaksi penolakan adalah adanya perubahan perilaku lansia dari
penolakan menjadi kooperatif. Dalam komunikasi ini diperlukan keterlibatan anggota
keluarga sebagai transmitter untuk mengenal lebih jauh tentang klien.
Kelebihan dalam
komunikasi ini melibatkan anggota keluarga atau orang lain yang berpengaruh.
Kekurangan model komunikasi ini memerlukan waktu yang cukup lama karena klien
dalam reaksi penolakan. Tidak dapat melakukan evaluasi sejauhmana perubahan
perilaku yang terjadi pada klien, karena tidak ada feed back (umpan balik)
b.
Model SMCR
Rumus
S-M-C-R adalah singkatan dari istilah-istilah : S singkatan dari Source yang
berarti sumber atau komunikator ; M singkatan dari Message yang berarti pesan ;
C singkatan dari Channel yang berarti saluran atau media, sedangkan R singkatan
dari Receiver yang berarti penerima atau komunikan
Kelebihan model ini
adalah proses komunikasi yang terjadi relatif simple. Model ini akan efektif
bila kondisi lansia masih sehat, belum banyak mengalami penurunan baik aspek
fisik maupun psikis. Kekurangan model ini klien tidak memenuhi syarat seperti
yang diterapkan mempunyai keterampilan, pengetahuan, sikap, sistim social dan
kultur; karena penolakannya. Memerlukan proses yang lama dan tergantung kondisi
klien lansia.
c.
Model Leary
Model ini antar
individu saling mempengaruhi dan dipengaruhi, dimana respon seseorang
dipengaruhi oleh bagaimana orang tersebut diperlakukan. Oleh karena itu dalam
berkomunikasi dengan lansia harus hati-hati, jangan sampai menyinggung
perasaannya. Dalam berkomunikasi dengan klien lansia seseorang perawat
diharapkan pada rentang love yang
banyak karena sifat social perawat sangat dibutuhkan oleh lansia. Lansia
membutuhkan perhatian yang lebih dalam berkomunikasi, untuk mengungkapkan
perasaannya. Diharapkan perawat harus lebih banyak mendengar apa yang
diungkapkan.
Kelebihan model ini
adalah terjadinya interaksi atau hubungan relationship;
hubungan perawat-klien lebih dekat sehingga masalah lebih dapat terselesaikan.
Dan kelemahan model ini perawat lebih dominan dank lien lansia patuh
d.
Model terapeutik
Model ini membantu
mendorong melaksanakan komunikasi dengan empati, meghargai dan harmonis. Dimana
dibutuhkan kondisi empati, kesesuaian dan penghargaan. Lansia dengan penolakan
sulit bagi kita melaksanakan empati. Kita tidak boleh menyokong penolakan
tetapi berikan perawatan yang cocok dan berbicara sesering mungkin, jangan
sampai menolak.
Kelebihan model ini
lansia akan lebih paham apa yang kita bicarakan; kopingnya lebih efektif.
Sedangkan kelemahan model ini kondisi empati kurang cocok diterapkan oleh
perawat lansia dengan reaksi penolakan.
e.
Model keyakinan
kesehatan
Menekankan pada
persepsi klien untuk mencari sehat, menjauhi sakit, merasakan adanya ancaman/manfaat
untuk mempertahankan kesehatannya. Padahal lansia dengan reaksi penolakan,
tidak mersakan adanya ancaman kesehatan, sehingga dalam berkomunikasi dengan
lansia dengan reaksi penolakan diperlukan motivasi yang kuat.
Kelebihan model
komunikasi ini lansia yang mengetahui adanya ancaman kesehatan akan dapat
bermanfaat dan sebagai barrier dalam melaksanakan tindakan pencegahan penyakit.
Sedangkan kelemahannya tidak semua lansia merasakan adanya ancaman kesehatan.
f.
Model komunikasi
kesehatan
Komunikasi yang
berfokus pada transaksi antara professional kesehatan-klien yang sesuai dengan
permasalahab kesehatan klien. Pandangan system komunikasi lebih luas yang
mencangkup tiga faktor mayor yaitu:
1)
Relationship
Perawat
professional mengadakan komunikasi dengan klien lansia haruslah menggunakan
ilmu psikososial dan teknik komunikasi dimana perawat haruslah ramah, rapi,
bertanggung jawab, tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata yang dapat
menyinggung perasaan klien lansia sehingga terjalin hubungan saling percaya.
Dalam mengadakan hubungan transaksi hendaknya seorang perawat professional
mengetahui permasalahan yang dihadapi klien lansia tersebut. Kemudian
bersama-sama menyelesaikan masalah.
2)
Transaksi
Dalam
berkomunikasi dengan lansia hendaknya disepakati untuk menyelesaikan masalah
klien bukan untuk hal lain. Pada lansia dengan reaksi penolakan harus hati-hati
mencari informasi dari klien, memberikan feed
back baik verbal maupun non verbal dan hendaknya secara berkesinambungan.
3)
Konteks
Perawat
professional harus mengetahui situasi dan permasalahan yang dihadapi klien.
Apabila masalah bersifat individu haruslah diselesaikan secara individu dengan
tidak mengabaikan tempat/ruangan dan
jenis pelayanan apa yang digunakan. Apabila masalah bersifat umum/kelompok harus
diselesaikan secara kelompok.
Kelebihan: dapat
menyelesaikan masalah klien lansia dengan tuntas. Klien lansia merasa sangat
dekat dengan perawat dan merasa sangat diperhatikan. Kelemahan: membutuhkan
waktu yang lama untuk menyelesaikan permasalahan; fasilitas dalam memberikan
pelayanan harus lengkap.
g.
Model interaksi
King
Kesepakatan sebelum
mengadakan interaksi dengan klien lansia. Perawat harus mempunyai persepsi
secara ilmiah tentang hal-hal yang akan dikomunikasikan. Persepsi ini kemudian
disepakati dengan klien sehingga dapat terjadi suatu aksi yang menyebabkan
terjadinya reaksi-interaksi dan transaksi. Kelebihan model ini dimana
komunikasi dapat sesuai dengan tujuan jika lansia sudah kooperatif. Sedangkan
kelemahan model ini klien lansia dengan reaksi penolakan akan mengalami
kesulitan untuk dilakukan komunikasi model ini, karena tidak kooperatif.
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Tehnik
komunikasi pada lansia dengan reaksi penolakan harus disertai pengetahuan
perawatan lansia baik fisik, psikologis, biologis dan spiritual. Klien lansia
dengan reaksi penolakan tidak menyadari adanya ancaman pada kesehatannya,
karena itu model komunikasi yang sesuai adalah model Leary.
B.
Saran
Dalam
tehnik komunikasi model Leary terdapat dua dimensi yang bertentangan,
diharapkan perawat dapat menyesuaikan situasi bagaimana seharusnya dia
bertindak. Jika klien dalam puncak penolakan maka perawat harus mengobservasi
pikiran-pikiran klien, jika klien lansia kooperatif maka perawat dapat
berfungsi sebagai teman dan guru serta tempat mencurahkan perasaan klien.
DAFTAR PUSTAKA
Mundakir.2006.Komunikasi
Keperawatan Aplikasi dalam Pelayanan.Surabaya: Graha Ilmu
http://yh4princ3ss.wordpress.com/2010/04/17/asuhan-keperawatan-pada-lanjut-usia-lansia/ (Diakses
pada tanggal: 1 November 2012)
(Diakses pada tanggal: 2 November 2012)Makalah Keperawatan Lansia
Langganan:
Komentar (Atom)